Sajadah Emas Buat Emak
Jakarta kota sejuta impian, gedung-gedung pencakar langit berdiri
kokoh dibalik rumah kumuh warga di sekitarnya. Jalan-jalan tol disesaki oleh
mobil-mobil mewah milik pengusaha terkenal, tak luput pula bus-bus metromini ikut meramaikan jalan.
Banyak yang bilang hidup dijakarta sangat lah mudah, tersedia banyak
lapangan pekerjaan yang menggiurkan, tak heran aku pun bertekad untuk ikut
mengadu nasib dikota metropolitan ini.
Aku membranikan diri untuk berpetualang dikota besar ini berkat
impian ku yang ingin menghadiahkan emak sajadah.
Sajadah yang terbuat dari emas yang tak pernah dijual dan di pakai
oleh siapa pun.
Sebelum aku berangkat emak sempat melarang ku untuk pergi
meninggalkan desa, tapi larangan emak tak memberhentikan langkah ku untuk
segera meraih impian yang telah lama ku
idam-idam kan.
“ Nak, untuk apa pergi jauh-jauh ke kota? Toh emak masih bisa kasih
kamu makan, nanti kamu disana mau tinggal dimana? Jangan tinggalin emak
sendirian disini.”
“ mak, jangan khawatir. Hauriy yakin Allah pasti kasih petunjuk sama
Hauriy, nanti kalau emak merasa kesepian, emak bayangkan saja kalau Hauriy ada
di samping nya emak. ” jawab ku lirih seraya membereskan pakaian yang akan ku
bawa nanti kekota.
“ Nak, apa kamu yakin mau meninggalkan emak? Coba dipikir lagi,
kalau memang kamu sudah yakin untuk
ninggalin emak sendiri, emak rela nak, yang penting kamu disana baik-baik,
jangan ikut-ikutan orang kota yang
sombong. Emak Cuma bisa kasih segini nak, untuk ongkos kamu. ” ujar emak dengan
wajah yang bersahaja seraya menyodorkan uang 2 lembar berwarna biru.
Emak memang wanita yang luar biasa dimata ku, semenjak ditinggal bapak 15 tahun yang lalu
tepatnya saat aku baru masuk sekolah dasar, saat itu bapak sakit-sakit an dan
sudah tak bekerja lagi, sehingga membuat emak harus banting tulang untuk menggantikan
posisi bapak sebagai kepala keluarga. Aku masih ingat pesan terakhir bapak
sebelum beliau kembali di pangkuan ALLAH.
“ Nak, kalau kamu sudah besar nanti, kamu harus buat emak bangga.
Jangan pernah melawan apa yang diperintahkan emak, jangan pula kamu
meninggalkan emak sendiri, cukup bapak saja yang meninggalkan dia, kamu harus
selalu ada disamping nya ya nak, menghapus air mata emak saat dia menangis,
menghapus keringat nya emak saat emak lelah. Bapak selalu do’akan kamu,
perjuangkan impian mu Riy. ”
Pesan bapak itu lah yang membuat ku ragu untuk meninggalkan emak
sendiri, tapi disisi lain bapak menyuruh ku untuk memperjuangkan impian ku, dan
impian ku itu harus meninggalkan emak sendiri disini di desa yang telah
membesarkan ku. “bapak, maaf kan hauriy
yang harus meninggalkan emak sendiri disini”
“ emak, Riy berangkat dulu, ALLAH
didesa dan ALLAH di kota sama, jadi
emak jangan takut. Insyallah Hauriy bisa jaga diri. ” Pamit ku dengan mencium
tangan lembut emak yang membuat hati ku semakin menjerit.
“ iya Riy, emak selalu mendoakan kamu nak. Jaga diri baik-baik ya
sayang. ” jawab emak
Ku lihat mata emak memerah, aku tahu kalau emak sangat berat untuk
melepaskan ku pergi sendiri kekota, tapi emak menyembunyikan Kristal-kristal
itu agar aku tak melihat nya menangis. “
Duhai emak, andaikan kita ditakdirkan menjadi orang kaya, sudah pasti aku tak
akan meninggalkan mu sendiri dan membuat mu bersedih seperti saat ini. Pasti kan
ku ajak emak untuk berkeliling dunia, untuk melihat begitu dahsyat nya ciptaan
ALLAH di bumi ini. Emak do’akan aku, agar aku bisa membuat mu bahagia dengan
segala kekurangan ku.”
*****
“ mbak bangun mbak, bus nya sudah sampai Jakarta” tegur
seorang lak-laki muda yang sejak tadi menemani ku duduk di bus.
“Subhanallah, ini jakarata??? Aku benar-benar tidak sedang bermimpi,
akhirnya aku sampai juga dijakarta.” Ujar ku dengan mimik wajah lugu
“ iya mbak, memang nya mbak ini mau kemana? Pasti dari desa ya, mau
mengadu nasib juga disini?” Tanya nya
“ heeehee, iya mas, ini
pertama kali nya saya ke Jakarta, ternyata bagus yahc. Oya, kok mas tau kalau saya mau cari kerja dikota ini?”
“itu bukan hal asing lagi mbak, banyak orang yang mau cari kerja
disini, memang sangat menggiurkan pekerjaan nya, namun banyak juga orang yang
terjerumus dalam lembah hitam, terutama wanita seperti mbak yang lugu dan
polos, pasti banyak yang membutuhkan mbak untuk menjadi penghibur mereka.”
Jawab laki-laki muda dengan senyuman aneh di bibirnya
“ maksudnya apa mas?” Tanya ku penasaran
“ Nanti mbak akan menemukan jawaban nya sendiri, selamat berjuang
mbak. Semoga bisa mendapatkan apa yang mbak impikan.” Jawab laki-laki itu dan
segera berlalu.
*****
Kemana akan ku langkah kan kaki ini, udara di Jakarta tidak sesejuk
di desa ku, banyak asap-asap yang bertaburan di udara semakin membuat ku sesak
untuk berpikir. Ku lihat uang yang di berikan emak tadi masih utuh, ku ambil
selembar uang tadi dengan niat untuk membeli makanan karena perutku sangat
lapar. Akhir nya ku putus kan untuk melangkahkan kaki ku kewarung yang ada
dipinggir jalan sana.
“ buk, nasi sayur nya berapa satu piring?” Tanya ku
“20.000 mbak”
“ mahal sekali buk, kalau didesa saya hanya 5000 ” jawab ku dengan
suara datar
“ ya sudah, mbak beli didesa mbak saja. Dikota mana ada yang murah
mbak” jawab ibu itu dengan senyuman sinis
Ternyata hidup dikota
tidak semudah yang ku bayangkan, harga-harga kebutuhan disini lebih mahal dan
orang-orang nya tidak sesantun di desa ku. Benar apa yang dikatakan emak, kalau
orang-orang kota itu sombong dan gak mau
peduli sesama.
“ buk, harga nya boleh kurang tidak buk, saya hanya ada uang
segini.” Ujar ku seraya menyodorkan uang 10ribuan
“ hmmmm,, ya sudah lah tak apa, tapi hanya dapat nasi dan air putih
ya mbak.” Ujar nya
******
Hidup sendiri
benar-benar tak enak, jauh dari emak dan teman-teman didesa membuat ku merasa
untuk segera memberhentikan langkah menjemput impian ku di kota ini. Kaki ku
terhenti di beranda masjid megah yang sekarang ada di hadapan ku, segera ku
basuh kepenatan ku dengan bening nya air wudhu dan melepaskan keluh kesah ku di
hadapan-Nya.
“ Ya Allah, bagaimana kabar
emak didesa? Apakah emak sudah makan? Pasti di desa emak kesepian, biasa nya
jam segini aku dan emak mengaji bersama, emak aku rindu”
“ mbak, dari desa ya?” tegur seorang wanita muda disamping ku dengan
kerudung nya yang lebar dan baju nya yang lonnggar membuat ku terperanjat dari
lamunan ku.
“iya mbak, kok mbak tau?”
“ maaf mbak kalau menggangetkan mbak, perkenalkan nama saya Qoza,
rumah saya tidak jauh dari sini. Kalau mbak mau menginap dirumah saya, saya
sangat senang.”
Ternyata tidak semua
orang kota sombong, masih ada sebagian yang baik dan ramah. Perkenalan ku
dengan mbak Qoza di beranda masjid itu menghantar kan ku untuk menjemput impian
yang aku harapkan sejak dulu, dengan modal ijazah SMA akhirnya aku bisa
mendapatkan pekerjaan di salah satu perusahaan ternama di Jakarta, meski pun
hanya sebagai cleaning service aku
sangat bangga karena ini bukan pekerjaan yang hina, seperti wanita-wanita desa
yang jatuh ke lembah hitam di kota besar, menjadi korban laki-laki bejat yang berkuasa dengan uang-uang
nya.
Aku mulai mengerti apa yang di katakan lelaki muda saat kami baru
sampai Jakarta, ini semua berkat bantuan Allah dan mbak Qoza sebagai perantara
nya. Mbak Qoza banyak mengajarkan aku tentang kehidupan di kota, beliau terpaut
8 tahun lebih tua dari aku sehingga aku memangil nya dengan panggilan “mbak”.
Setengah tahun sudah ku merantau di pulau sebrang, jauh dari
perhatian emak dan pemandangan hijau yang selalu tersusun rapi di pinggir jalan
setapak menuju rumah ku. Ku rasa pemandangan di desa ku lebih asri dibandingkan
pemandangan disini yang penuh dengan asap-asap kendaraan dan pabrik-pabrik yang
beroperasi.
*****
Jakarta,
24 maret 2009
Teruntuk emak yang selalu Hauriy rindukan
Assalamualaikum wr.wb
Emak, bagaimana kabar nya? Hauriy harap, emak baik-baik saja disana.
Emak, banyak hal yang ingin hauriy ceritakan pada emak tentang
perjalanan hauriy di kota Jakarta. Alhamdulillah hauriy sekarang sudah bekerja
di perusahaan besar di Jakarta meskipun hauriy jabatan nya hanya sebagai cleaning service tapi hauriy menikmati
pekerjaan itu mak. Disini hauriy banyak teman yang baik-baik mak terutama mbak
Qoza, jadi mak tidak perlu khawatir mengenai kehidupan hauriy.
Emak, hauriy sangat merindukan belaian tangan hangat emak di setiap
malam yang menghantar kan Hauriy pada tidur yang nyenyak.
Emak ingin segera ku jumpai wajah mu yang teduh, untuk melihat
senyum manis mu yang bersahaja, untuk mengusap air mata kerinduan mu pada ku,
dan untuk memeluk erat tubuh mu yang semakin renta. Tapi keinginan ku itu belum
bisa ku jumpai sekarang mak, mungkin hanya lewat goresan tinta ini kutuai kan
rindu ku pada emak yang tak terbatas.
Emak, maaf aku belum bisa menemui emak sekarang. Masih banyak impian
ku yang belum ku raih. emak, izin kan lah anak mu ini menghadiahkan sajadah
emas yang tak pernah di miliki oleh siapa pun didunia ini.
Salam sayang, dari
anak yang selalu merindukan mu.
Ttd.
Hauriyyatun.
*****
Sepucuk surat telah ku kirim kan pada emak hari ini, semoga emak
senang dengan apa yang aku kirim kan. Meskipun sajadah yang ku berikan bukan
lah terbuat dari bahan emas tapi sajadah itu ku rajut dengan cinta yang tak
pernah terbelikan oleh siapa pun. Emak itu lah sajadah Cinta ku pada mu.
End….
Biografi Penulis
Bismillahirahmanirahim…
Assalamu’alaikum Warahamatullah Wabarakatuh…
Penulis bernama
Rani musodah, lahir di kota menggala, 28 oktober 1994. sekarang sedang menempuh
pendidikan di SMAN 2 MENGGALA dan duduk di kelas XII.IPS. Penulis menempuh
pendidikan sejak Sekolah dasar di SDN 01 MENGGALA di lanjutkan di MTSN 01
MENGGALA.
Penulis beralamatkan di jalan senayan lintas timur, komplek MTS N
Menggala.
CP : 089631403036
FB : HAURIYYATUN AL-AJNUN
LA
E-mail : rani.musodah@gmail.com
