Surat
Cinta untuk Ayah dan Bunda
Bandar
lampung, 7 juni 2013
Assalamu’alaikum wr.wb
Ayah bagaimana kabar nya disana? Masih
sering sakit kah perut nya?
Ibu, bagaimana kabarnya disana? Masih
sering pusing dan sesak nafas kah?
Ayah dan Ibu, disini Rani sangat
merindukan kalian. Rani selalu selipkan nama kalian disetiap usai Rani shalat,
dengan harapan Allah selalu menjaga ibu dan ayah disana.
Sedih ketika Rani mendengar Ayah dan ibu
sakit dari acik dan adek-adek, rasanya ingin sekali Rani pulang saat itu jga
untuk segera berada disamping nya ibu dan ayah memberikan pelayanan terbaik
untuk kalian, tapi apalah daya saat kalian sedang sakit Rani tak bisa berada
disamping kalian maafkan Rani ya Ayah, Maafkan Rani ya Ibu.
Ibu dan Ayah tidak perlu khawatir dengan
keadaan Rani disini, InsyAllah Rani bisa menjaga diri Rani selama Do’a ayah dan
ibu selalu tercurah untuk rani disini.
Ibu dan Ayah dulu Rani adalah anak yang
kuat tapi sekarang Rani ringkih, maaf ya ibu Rani terkadang tidak menjaga pola
makan nya Rani. Maaf juga jika setiap Rani sakit Rani tidak pernah memberi
kabar sama ayah dan ibu, rani takut ibu dan ayah terlalu khawatir dengan
kondisi Rani disini.
Ibu dan Ayah, Maaf kalau Rani jarang
sekali SMS atau Telphone kalian, bukan Rani tidak rindu dengan kalian tapi
karena rani tak ingin menjadi anak yang manja, dan maaf saat Ibu dan Ayah
telephone durasi nya tidak pernah lama, bukan rani tak sayang dengan kalian
tapi rani ingin menjaga perasaan rani, jika rani terus ngobrol dengan ibu dan
ayah rani pasti akan menangis, menangis karena rindu nya rani dengan kalian.
Maaf ya ibu, kalau rani lebih banyak
cerita dengan teman-teman nya rani mengenai masalah nya rani, rani hanya tidak
ingin menambah beban ibu dengan
maslah-masalah nya rani, rani tidak ingin ibu kepikiran dengan maslah kampus
dan masalah organisasi nya rani, rani tak ingin ibu sakit, rani ingin ibu
selalu terlihat sehat saat rani pulang kerumah.
Ayah, terimakasih untuk semua kasih
sayang ayah kepada Rani, meskipun itu tidak terlihat secara dzahir namun rani
bisa merasakan itu, terimakasih atas nafkah yang ayah berikan kepada rani.
Maaf ibu, jika setiap ibu menanyakan
keadaan uang rani, rani selalu bilang ada padahal uang yang rani pegang pas-pas
an, rani hanya tak ingin menambah beban ayah, kasihan ayah susah cari uang nya.
Ibu rani tidak pernah menyesal
dilahirkan dari rahim ibu rani juga tidak menyesal telah dibesarkan dalam
keadaan keluarga yang sederhana, rani juga tidak pernah menyesal mempunyai
seorang ibu yang cerewat, karena dari itu semua rani belajar jadi orang yang
sederhana dan bisa jadi orang yang kuat. Terimakasih ibu untuk semua nasihat
nya meski itu dibungkus dengan kalimat pedas dan membuat air mata ini mengalir,
tapi dari kalimat itulah rani belajar untuk terus memperbaiki diri, hingga rani
bisa menjadi seperti sekarang ini.
Ibu andaikan semua kasih sayang ibu itu
di rupiahkan rani pasti tidak akan pernah bisa membayar nya, karena kasih sayang
ibu sudah sangat banyak dan tidak bisa terhitung dengan rupiah maupun dolar
sekalipun.
Ayah andaikan keringat ayah bisa di
hitung, rani pasti tidak pernah bisa menghitung nya, karena sudah sangat banyak
tetesan keringat yang ayah keluarkan untuk keluarga dan untuk biaya rani dari
kecil hingga saat ini, saat rani pulang ke rumah rani sedih karena ternyata
ayah sekarang semakin tua dan kulit ayah semakin hitam, mata ayah semakin sayu
dan banyak goresan-goresan kerut di bagian wajah ayah, maaf ya ayah rani selalu
buat ayah repot cari uang untuk biaya kami, semoga dengan perjuangan ayah untuk
kami akan Allah balas dengan surga-Nya.
Ayah dan Ibu, maaf jika sampai saat ini
rani belum bisa jadi anak yang berbakti dengan kalian, rani masih sering
durhaka pada kalian, maafkan rani juga karena belum bisa buat ibu dan ayah
bahagia dan bangga memiliki anak seperti Rani.
Satu impian terbesar dalam hidupnya rani
adalah rani bisa memberangkat ibu dan ayah mengunjungi Baitullah dengan hasil
jerih payah keringat nya rani, selalu do’akan rani ya bu agar bisa jadi anak
yang sukses dunia dan akhirat.
Rani selalu Sayang Ibu, Ayah, Acik, dan
adek-adek.
Salam rindu dari anak mu
Rani
Musodah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar